Empat Pria Tangguh yang Sukses Mengkudeta Liga Champions Sebagai Pemain dan Pelatih

Raksasa La Liga Spanyol, Real madrid untuk kali kedua sukses manaklukan Liga Champions. Catatan lain membuktikan jika Zinedine Zidane melakukan hal itu bersama Madrid dalam dua musim terakhir dalam jabatannya sebagai pelatih baru.

Kesuksesan Zidane itu menjadikan dirinya sebagai pelatih pertama yang melakukannya sejak Arrigo Sacchi pada tahun 1990. Jelas saja jika prestasi itu adalah yang luar biasa sebagai profesi barunya sebagai seorang pelatih sepakbola.

Tak berhenti sampai disitu saja, nama Zidane kembali masuk dalam catatan rekor sejarah baru sebagai sosok yang mampu menaklukan Liga Champions sebagai pemain dan pelatih. Menariknya dalam putaran Liga Champions, Zidane tak sendirian. Sebelumnya sudah ada nama lain yang juga melakukan hal yang sama dengan Zidane.

Nama-nama itu berhasil kami rangkum menjadi empat sosok yang terhitung sudah menghadirkan lebih dari empat. Berikut data lengkapnya:

1. Miguel Munoz adalah gelandang tengah yang begitu fenomenal bersama Real Madrid, dibawah kepemimpinannya, Munoz sukses memberikan dua gelar pada edisi pertama dalam balutan Piala Eropa.

1958 menjadi musim sempurna Munoz dengan meraih trofi ketiga meskipun tidak bermain di final. Adapun Munoz pensiun setelah juara tahun 1958 dan langsung beralih menjadi pelatih.

Musim 1959 menjadi titik awal perjalanan Munoz sebagai pelatih dan musim debutnya itu sukses meraih kemenangan dalam final legendaris 7-3 di Glasgow. Tak berhenti sampai disitu saja, Munoz terakhir kali membawa Madrid meraih juara Eropa dengan tim baru yang penuh pemain muda Spanyol dan rekan setimnya Paco Gento, pada 1966.

2. Trapattoni datang dengan balutan sebagai pemain yang baik dalam mempresing lawan. Ia menunjukkan hal itu pada babak kedua di final 1963, dengan mematikan pergerakan Eusebio. Awal kesuksesan Trapattoni terjadi pada musim 1969 dengan melawan tim Ajax yang diperkuat Johan Cruyff. Trapattoni memimpin Milan untuk meraih kemenangan 4-1 dan sukses mendapatkan gelar Piala Eropa.

Masuk musim 1958, Trapattoni mencoba keberuntungannya dengan menjadi pelatih Juventus. Dan musim 1976 menjadi titik awal kesuksesan Trapattoni dengan memenangkan semuanya: enam gelar Serie A, dua Coppa Italia, Piala UEFA 1977, Piala Winners 1984, Piala Super Eropa 1984 dan Piala Interkontinental 1985.

Dan tentunya saja gelar Interkontinental menjadi pembawa jalan terbuka Juventus untuk meraih Piala Eropa pada tahun 1985. Sebuah momen yang patut dikenang lantaran saat itu dibarengi dengan tragedi Heysel yang merupakan salah satu sejarah kelam dalam sepakbola Eropa.

3. Cruyff datang dengan julakan kebangkitan sepakbola modern, pemain yang sangat penting di tim Ajax yang menganut “Total Football” pada awal tahun 1970an.

Cruyff muncul sebagai sosok yang berhasil menggusur dominasi Real Madrid yang sukses menjadi juara sebanyak tiga kali beruntun. Cruyff memiliki visi dan misi yang sulit untuk ditandingi. Menjabat sebagai pelatih Barcelona pada tahun 1968, Cruyff mengubah seluruh filosofi Barcelona saat dia menjadi pelatih dan menerapkan sistem permainan yang mirip dengan Ajax tapi masih tetap berbeda.

Dibawah asuhan Cruyff, Barca berhasil menyabet gelar La Liga empat kali berturut-turut dan membawa pulang Piala Eropa pertama dalam sejarah klub yang terakhir sebelum era Liga Champions dengan kemenangan 1-0 atas Sampdoria.

4. Carlo Ancelotti meninggalkan cerita menarik karena datang sebagai punggawa AC Milan yang ketika itu diisi oleh pemain tingkat dewa sepakbola seperti Ruud Gullit, Frank Rijkaard and Marco Van Basten.

Ancelotti sukses menaklukan Piala Eropa pertama pada musim 1989 saat mengalahkan Steaua Bucuresti. Berkat kekompakan, Milan berhasil menjadi tim pertama yang sukses mempertahankan gelar Piala Eropa dimusim berikutnya.

Ancelotti mencoba menjadi pelatih pada musim 2003 sampai dengan 2007 di AC Milan dan memasuki fase baru bersama Real Madrid pada musim 2013. Musim Ancelotti dimilan pun berjalan lancar, sosoknya sukses membawa dua Liga Champions tapi gagal meraih yang ketiga di tahun 2005.

Musim 2013, Ancelotti ditunjuk sebagai pelatih Real Madrid dan mendapat gelar ke-10 mereka atau yang dikenal dengan La Decima. Ancelotti mendapatkan gelar itu usai mengalahkan tim sekota, Atletico Madrid dengan skor 4-1.